Makanan Telah Dihidangkan Bersamaan Dengan Saat Sholat

Menjalankan ibadah sholat haruslah dengan khusyuk. Wajib fokus menyembah Allah Subhanahu wa ta’ala karena akan menghasilkan sholat yang berkualitas dan meraih pahala besar. Hilangkan segala penyebab yang dapat membuat pelaksanaan sholat menjadi tidak khusyuk.

Menjadi satu permasalahan yang terjadi terkait hal ini adalah sholat ketika makanan sudah dihidangkan. Lalu bagaimana hukumnya?

Mengutip dari Muslim.or.id, Kamis (9/7/2020), Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَحَضَرَ العَشَاءُ، فَابْدَءُوا بِالعَشَاءِ

Artinya: “Jika sholat hampir ditegakkan (ikamah sudah dikumandangkan, red), sedangkan makan malam telah dihidangkan, maka dahulukanlah makan malam.” (HR Bukhari Nomor 5465 dan Muslim Nomor 557)

Maksud dari hadis ini adalah jika seseorang Muslim mendahulukan sholat dibandingkan makan, maka hatinya akan disibukkan memikirkan makanan itu ketika sedang sholat. Akibatnya bisa mengurangi kesempurnaan sholat di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Oleh karena itu, dianjurkan untuk mendahulukan menyantap makanan demi menjaga hak Allah Ta’ala saat menunaikan ibadah sholat.

Kemudian terdapat persyaratan yang dijelaskan para ulama sehingga seorang Muslim bisa mengamalkan hadis tersebut.

Sangat lapar.
Ketika seseorang memang membutuhkan makan dan minum, misalnya dalam kondisi perut yang sangat lapar. Adapun jika dalam kondisi tidak terlalu lapar, maka tetap mendahulukan sholat.

Waktu masih longgar.
Jika waktu sholat masih longgar, sehingga ketika makan-minum terlebih dahulu masih bisa melaksanakan sholat pada waktunya. Apabila waktu sholat hampir habis, maka dahulukan mengerjakan sholat pada waktunya, dalam kondisi apa pun. Sebab anjuran untuk meningkatkan kekhusyukan tidaklah dapat menggugurkan kewajiban melaksanakan shalat pada waktunya.

Tidak sengaja merutinkan.
Seseorang tidak sengaja menjadikan waktu makan-minum bertepatan dengan sholat sebagai sebuah kebiasaan yang dilakukan secara rutin dan terus-menerus. Oleh karena itu, di antara kebiasaan generasi awal dahulu adalah menyantap makan malam sebelum waktu Sholat Maghrib tiba atau di akhir waktu Sholat Ashar.

Dikonsumsi secara syari atau realita.
Makanan yang ada mungkin bisa dikonsumsi secara syari ataupun secara realita. Secara syari misalnya orang tersebut tidak sedang berpuasa wajib, seperti puasa Ramadhan. Jika tiba waktu Ashar dan makanan untuk berbuka puasa sudah siap, maka tidak boleh menunda Sholat Ashar demi menunggu makan. Sebab secara syari memang belum waktunya berbuka puasa, meskipun perut mungkin sudah sangat lapar.

Sementara secara realita misalnya makanan masih sangat panas dan perlu menunggu beberapa saat untuk bisa disantap, maka dalam kondisi demikian ini yang didahulukan adalah melaksanakan sholat. Juga misalnya makanan itu bukan miliknya, dan dia tidak diperbolehkan untuk menyantapnya karena alasan tertentu.

Siap disantap.
Makanan tersebut sudah siap disantap, bukan masih diracik atau masih dimasak. Oleh karena itu, ketika makanan belum siap disantap, maka tetap mendahulukan sholat, meskipun dalam kondisi lapar. Karena sibuknya hati seseorang untuk memikirkan makanan yang sudah siap disantap itu lebih besar daripada jika makanan belum siap disantap.

Demikian penjelasan mengenai hukum sholat ketika makanan sudah dihidangkan. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala selalu memberikan taufik dan hidayah kepada setiap Muslim hingga bisa sholat secara khusyuk. Amin.

Sumber Artikel dan Photo : Okezone.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *